Dapatkan Info & Tips Otomotif beserta Berita VITTA-Q terbaru - dengan berlangganan GRATIS!!
Nama :
eMail :


Kata Kunci :

VITTA-Q RSS Feed   [Valid RSS]
KECEPATAN KENDARAAN DI JAKARTA HANYA 20KM/JAM

Kecepatan Kendaraan di Jakarta Hanya 20km/jam  


Akibat tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta yang sudah mencapai 5,7 juta unit, dengan 5,6 juta (98 persen) kendaraan pribadi dan 87.976 (2 persen) angkutan umum, di tengah panjang jalan yang hanya 7.650 kilometer dengan luas jalan 40,1 kilometer persegi atau 6,2 persen dari luas wilayah DKI Jakarta, serta pertumbuhan panjang jalan yang hanya 0,01 persen pertahun, membuat kemacetan jadi tidak terelakkan lagi di Jakarta.

Kondisi ini tidak hanya menyita waktu, tetapi akibat kemacetan itu juga membuat kerugian sebesar Rp 12,8 triliun per tahun. Kerugian tersebut meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar, dan biaya kesehatan.

Pengamat transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ofyar Z Tamin, menganalisa dalam tujuh tahun terakhir kecepatan di jalan turun 25 persen. Dari 26 kilometer per jam menjadi 20 kilometer per jam saja. Ia juga menilai permasalahan kemacetan yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya yakni belum efektifnya strategi angkutan umum massal, pertumbuhan pusat-pusat kegiatan baru di jalan-jalan arteri, dan perubahan tata guna lahan yang tidak memperhatikan daya dukung transportasi. Disebutkan penyebab lainnya yakni kondisi pelayanan angkutan umum konvensional yang buruk, perpindahan pengguna angkutan umum ke motor, dan lain sebagainya.

"Dengan banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi membuat kemacetan semakin parah. Untuk itu harus adanya perbaikan moda angkutan umum sehingga masyarakat bisa beralih. Solusi mengatasi masalah kemacetan yakni dengan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi," kata Ofyar, dalam diskusi bertajuk, Problematika dan Solusi Efektif Mengatasi Kemacetan Jakarta di salah satu hotel di Jakarta Pusat, Selasa (22/3).

Menurutnya moda transportasi massa seperti kereta api mempunyai jaringan yang cukup komprehensif dengan wilayah sekitar Jakarta. Selain itu, jaringan kereta juga dapat menjadi jaringan primer angkutan umum. "Tapi permasalahan utamanya adalah belum adanya usaha untuk mensinergikan pembangunan wilayah di sekitar jalan kereta api. Pengembangan wilayah juga masih terlalu sensitif dengan pembangunan jalan tol," jelasnya.

Namun, ia menyebutkan jalur kereta api mempunyai keterbatasan aksesibilitas meskipun handal secara mobilitas sehingga perlu didukung olah bus Transjakarta. Rute-rute yang tidak dapat dijangkau oleh kereta api dapat menggunakan bus Transjakarta. Untuk itu, perlu adanya peningkatan pelayanan bus Transjakarta itu sendiri. Selain menyediakan angkutan massal yang memadai, kebijakan parkir juga perlu diperhatikan. Perlu diterapkan batas minimum dan maksimum penyediaan ruang parkir untuk membatasi pergerakan kendaraan pribadi.


Sumber: beritajakarta


VITTA-Q (Vitamin Aki)